Selasa, 04 Desember 2012

FORT ROTTERDAM

Fort Rotterdam oder Fort Ujung Pandang (Fr Pandang) ist eine Festung des Königreichs Gowa-Tallo Erbe. Die Lage der Festung wurde an der Westküste Stadt Makassar, Süd-Sulawesi entfernt.

Die Festung wurde im Jahre 1545 durch den König von Gowa zu einer benannten I-9 manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumpa'risi 'kallonna gebaut. Diese Festung wurde ursprünglich aus Ton gefertigt, sondern in der Regierungszeit des Königs von Gowa-14 Sultan Alauddin Bau der Festung wurde zu Stein Padas geändert werden aus den Karst-Gebirge in der Maros bezogen. Ujung Pandang Festung ist wie eine Schildkröte, die kriechen in den Ozean wollte geprägt. Form ist sehr klar im Sinne der Philosophie des Reiches Gowa können, dass die Schildkröten an Land und auf See zu leben. Also selbst mit dem Königreich Gowa, die auf Land und auf See gesiegt.

Der ursprüngliche Name dieser Festung ist Fort Ujung Pandang, in der Regel gut Gowa Makassar Menschen dieses Fort als Fort Panyyua, die das Hauptquartier des Reiches Gowa Froschmänner ist anzurufen. Königreich Gowa-Tallo Bungayya schließlich eine Vereinbarung unterzeichnet, was bedeutet, dass eine Klausel des Königreichs Gowa, das Fort zu der holländischen Kapitulation verlangt. Zum Zeitpunkt der niederländische besetzten die Festung, der Name nach Fort Ujung Pandang Fort Rotterdam verändert. Cornelis Speelman bewusst für den Namen Fort Rotterdam, um die Geburt in den Niederlanden zu gedenken. Diese Festung wurde später von den Holländern als eine zentrale Lagerung von Gewürzen im Osten Indonesiens verwendet.

Im Areal befindet sich jetzt Ujung Pandang Festung La Galigo Museum, wo es viele Hinweise auf die Geschichte von der Größe von Makassar (Gowa-Tallo) und anderen Gebieten in Süd-Sulawesi sind. Die meisten Gebäude sind noch intakt und Festung zu einer der Attraktionen in der Stadt Makassar.


Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.
Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.
Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar