Rabu, 09 Januari 2013

Belajar Bahasa Jerman


Perkenalan (Kennenlernen)

LEKTION I
Mengenal Bahasa Jerman
Pada tahap pertama Bahasa Jerman, kita akan dihadapkan pada bagaimana perkenalan dalam Bahasa Jerman. Kita akan belajar bagaimana cara menyapa atau mengucapkan salam kepada orang-orang yang kita temui. Sama halnya seperti di Indonesia, kita mengenal kata-kata atau kalimat untuk menyapa. Seperti diantaranya; Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Malam, Halo, Hai, dan lain sebagainya.
Berikut salam yang biasa didengar dalam membuka pembicaraan dalam Bahasa Jerman:
  • Guten Morgen! (Selamat Pagi!)
  • Guten Tag! (Selamat Siang!)
  • Guten Abend! (Selamat Sore/Malam!)
  • Gute Nacht! (Selamat Malam (tengah malam)! digunakan saat menjelang tidur)
Dan bila menjawab salam pun orang Jerman hanya mengucapkan kembali kalimat salam yang digunakan penanya.
Zum Beispiel (contoh):
A: Guten Abend!
B: Guten Abend.
Kemudian setelah sebuah pembicaraan dibuka dengan salam, biasanya dilanjukan dengan menanyakan kabar atau saling menanya kabar. Dan kalimat untuk menanyakan salam dalam Bahasa Jerman, biasanya digunakan kalimat sebagai berikut:
  • Wie geht es Ihnen? (Bagaimana kabar Anda?)> resmi
  • Wie geht es dir? (Bagaimana kabar kamu?)> akrab
Dan jawaban untuk kalimat tersebut beragam, diantaranya;
Danke,gut; Es geht; Prima; Super; Sehr gut;
Zum Beispiel:
A: Wie geht es Ihnen?
B: Danke, gut
Kemudian dalam perkenalan, pasti seseorang menanyakan nama atau memperkenalkan nama. Ada beberapa alternatif kata tanya nama dalam Bahasa Jerman:
  • Wie ist Ihr Name? (Siapa nama Anda?)
  • Wie heissen Sie? (Siapa nama Anda?)
  • Wer sind Sie? (Siapa Anda?)
Dan untuk menjawabnya, bisa digunakan
  • Mein Name ist …Andika…=(Nama Saya ..Andika..)
  • Ich heisse…Andika…
  • Ich bin…Andika…
Selanjutnya bisa disambung dengan kalimat tanya asal dan tempat tinggal
  • Woher kommen Sie? (Dari mana asal Anda?)
  • Wo wohnen Sie? (Dimana Anda tinggal?)
Dan kalimat tanya asal dan tempat tinggal dalam suasana akrab
  • Woher kommst du? (Dari mana asal kamu?)
  • Wo wohnst du? (Kamu tinggal dimana?)
Dijawab:
  • Ich komme aus ..Indonesien..
  • Ich wohne in ..Bandung..
Selanjutnya, pertanyaan yang biasa kita dengar dalam perkenalan atau percakapan dengan sendirinya mengalir. Seperti tanya jawab pekerjaan, umur, status, nomor telepon, dan lain sebaganya.
Berikut contoh sebuah percakapan/dialog sederhana antara Person A dan Person B.
A: Guten Morgen! (Selamat Pagi!)
B: Guten Morgen. (Selamat Pagi)
A: Wie geht es Ihnen? (Bagaimana kabar Anda?)
B: Danke, gut. Und Ihnen? (Baik, terimakasih. Dan Anda?)
A: Prima. Und entschuldigung…wie heissen Sie? (Prima. Maaf…Siapa nama Anda?)
B: Mein Name ist Schneider. Bern Schneider. Und Sie? Wie heissen Sie? (Nama saya Schneider. Bern Schneider. Dan Anda? Siapa nama Anda?)
A: Ich heisse Andika. Andika Wiranatakusumah. Woher kommen Sie Herr Schneider? (Nama saya Andika. Andika Wiranatakusumah. Anda berasal dari negara mana Pak Schneider?)
B: Ich komme aus Deutschland. Und Sie? Woher kommen Sie? (Saya berasal dari Jerman. Anda? Berasal dari mana?)
A: Ich komme aus Indonesien. Wo wohnen Sie? (Saya berasal dari Indonesia. Anda tinggal dimana?)
B: Ich wohne in Berlin. Und Sie? (Saya tinggal di Berlin. Anda?)
A: Ich wohne in Bandung. Ach so…Herr Schneider, was sind Sie von Beruf? (Saya tinggal di Bandung. Ehm…Pak Schneider apa pekerjaan Anda?)
B: Ich bin Ingenieur. Und Sie, Herr Andika? Was machen Sie? (Saya seorang Insinyur. Dan Anda, Pak Andika? Apa pekerjaan Anda?)
A: Ich bin Lehrer an der SMKN 3 Bandung. Entschuldigung…Haben Sie telefonnummer? (Saya seorang guru di SMKN 3 Bandung. Maaf…Anda punya nomor telepon?)
B: 08123456789. Und Sie? Wie ist Ihre Telefonnummer? (08123456789. Dan Anda? Berapa nomor telepon Anda?)
A: 02298765432. Danke…bis Morgen, Herr Schneider. Aufwiedersehen! (02298765432. Terimakasih..sampai besok, Pak Schneider. Sampai jumpa!
B: Aufwiedersehen. (Sampai jumpa)
Uebung 1 (latihan)
1. Coba buat sebuah dialog sederhana seperti contoh di atas! dengan mengisi informasi tentang diri Anda ataupun teman Anda!

Pengertian Kemampuan

    Menurut Mohammda Zain dalam Milman Yusdi (2010:10)mengartikan bahwa Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kakuatan kita berusaha dengan diri sendiri. Sedangkan Anggiat M.Sinaga dan Sri Hadiati (2001:34) mendefenisikan kemampuan sebagai suatu dasar seseorang yang dengan sendirinya berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan secara efektif atau sangat berhasil.

    Sementara itu, Robbin (2007:57) kemampuan berarti kapasitas seseorang individu unutk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan. lebih lanjut Robbin menyatakan bahwa kemampuan (ability) adalah sebuah penilaian terkini atas apa yang dapat dilakukan seseorang.

    Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan (Ability)adalah kecakapan atau potensi seseorang individu untuk menguasai keahlian dalam melakukan atau mengerrjakan beragam tugas dalam suatu pekerjaan atau suatu penilaian atas tindakan seseorang.

      pada dasarnya kemampuan terdiri atas dua kelompok faktor (Robbin,2007:57) yaiut:
1. kemampuan intelektual (intelectual ability) yaitu kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktifitas mental-berfikir, menalar dan memecahkan masalah.
2. kemampuan fisik (physical ability) yaitu kemampuan melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa.

Ramalan Politik Terbesar di Tahun 2013

Politik 2013 merupakan sebuah angka maut sebuah pertaruhan menuju singgasana kekuasaan, apalagi tahun berikutnya bangsa Indonesia akan mengadakan Pilpres dengan berbagai realita perpolitikan yang ada di sebuah bangsa terbesar di Asia Tenggara. Sehingga tahun 2013 menjadi sebuah ancang-ancang bagi para politisi, untuk melakukan berbagai aksi maupun reaksi atas terjadinya berbagai realita kehidupan di dunia perpolitikan.
Meramal perpolitikan di tahun 2013 sebagai bentuk ancang-ancang para politisi menuju singgasana tertinggi di tahun berikutnya. Menunjukkan, bahwa perpolitikan di tahun 2013 sebagai sarana permainan para politisi, untuk mencitrakan diri sebaik mungkin, tentu dengan sebuah harapan pada tahun 2014 mampu mencapai titik keberhasilan, supaya dapat duduk di  kursi singgasana tertinggi di Republik Indonesia.
Pertarungan politik di tahun 2013 tidak menutup kemungkinan sebuah permainan kampanye terselubung dengan penuh rahasia dari para politisi, supaya mampu meraih keuntungan suara besar di saat terjadi sebuah momentum pemilihan legislatif maupun pemilihan singgasana tertinggi di kursi panas yang menjadi impian bagi para politisi.
Duduk di kursi singgasana RI 1 merupakan sebuah mimpi besar bagi para politisi yang mempunyai ambisi berkuasa, dan tentunya berusaha semaksimal mungkin mampu menjalankan amanah sebagai pelayan masyarakat, untuk mewujudkan sebuah bangsa yang adil, makmur, dan sentosa. Maka tak heran kursi RI 1 menjadi incaran bagi para politisi handal maupun amatir, untuk duduk di kursi singgasana yang penuh dengan impian sebagai penguasa di negeri Nusantara.
Ramalan politik 2013 tak jauh beda dengan kondisi politik 2012 hanya sebatas pencitraan para politisi yang ingin duduk di sejumlah kursi kekuasaan, baik kekuasaan di daerah maupun kursi kekuasaan di tingkat lebih tinggi lagi, maka di tahun 2013 sebuah kondisi politik masih bersifat stabil, walau tidak menutup kemungkinan akan terjadi sebuah gesekan politik di sejumlah daerah maupun di tingkat pusat, apabila para penguasa tidak mampu memberikan sebuah harapan besar kepada masyarakat, tetapi kalau para penguasa mampu memberikan sebuah harapan besar kepada masyarakat, maka kestabilan politik di tahun 2013 akan terlihat mengalir dengan lancarnya.
Mengenai ramalan politik terbesar di tahun 2013, bahwa bangsa Indonesia akan mengalami berbagai permasalahan menjelang Pilpres 2014, walau Pilpres tidak di adakan di tahun 2013, tetapi atmosfer Pilpres sudah dapat di rasakan pada tahun 2013. Inilah sebuah ramalan tentang atmosfer di tahun 2013, bahwa atmosfernya sudah dapat di rasakan dengan gejolak pertarungan yang penuh dengan intrik maupun tekanan saat menuju singgasana tertinggi di Republik Indonesia.
Berangkat dari gambaran di atas tentang suhu politik 2013, bahwa politik 2013 tak lepas dari atmosfer Pilpres 2014 mendatang. Sehingga politik di tahun 2013 hanya sebatas pemanasan dengan berbagai kondisi yang di buat para politisi, untuk mencitrakan diri sebaik mungkin di tengah-tengah realita kehidupan masyarakat, supaya di tahun 2014 mampu menduduki kursi singgasana tertinggi RI 1.
Melihat dari gambaran tentang ramalan politik 2013, bahwa politik 2013 merupakan sebuah bentuk persiapan bagi para calon yang ingin bertarung, untuk duduk di kursi legislatif maupun kursi tertinggi RI 1 dan RI 2, tetapi politik 2013 akan menjadi sebuah pertarungan yang membuat panas di sejumlah daerah, untuk memperebutkan sejumlah kursi tertinggi di daerah masing-masing saat melaksanakan sebuah hajatan dengan istilah: pilkada namanya.
Mengenai ramalan atau di sebut dengan prediksi 2013, bahwa ramalan terbesar di tahun 2013 tak lepas dari sebuah ancang-ancang para politisi, untuk membangun sebuah pencitraan sebaik mungkin, supaya di tahun 2014 mampu mencapai kursi puncak di singgasana Republik Indonesia, maka konsolidasi di berbagai pihak sangat di butuhkan, supaya dapat memuluskan para politisi saat bertarung menuju singgasana tertinggi di sebuah negara terbesar di Asia Tenggara.
Semoga Allah SWT memberikan kecerdasan kepada kita semua, supaya kita semua mampu menelaah berbagai realita kehidupan dengan cara secerdas-cerdasnya, Amiin......

Salam dari kami 
Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)........

Pengembangan Kripik Susu Di Enrekang

Peternak sapi perah di Kabupaten Enrekang selama ini dikenal hanya memanfaatkan susu sapi sebagai bahan pembuatan dangke (makanan jenis tahu) dan keperluan lain segera ditingkatkan. Kini Dinas Perikanan dan Peternakan Enrekang mulai mengembangkan program pembuatan kripik susu.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Perikanan dan Peternakan Enrekang, drh Junwar di ruang kerjanya, Rabu 7 Juli mengatakan sebelumnya program pembuatan kripik susu tersebut, lebih dulu melatih kelompok usaha yang dilibatkan dalam pengembangan makanan khas Enrekang itu.

      Junwar menjelaskan, kripik susu diolah dari bahan dasar susu yang terlebih dulu dibuat dangke. “Kripik susu itu merupakan turunan dari dangke. Kalu dangke kan masa bertahannya terbatas. Tapi kalau kripik bisa tahan lama. Makanya kita melakukan inovasi untuk pembuatan kripik susu tersebut,” jelasnya.
Junwar menjelaskan, kripik susu lebih menguntungkan peternak ketimbang dangke. Harga kripik susu lebih mahal dibanding dangke.

    “Harga jual dangke saat ini hanya Rp 10 ribu/biji, sementara kripik mencapai Rp 30 ribu/kilogram. Kemudian untuk menghasilkan 1 kilogram kripik susu, hanya setara dengan setengah biji dangke,” paparnya.
Junwar mengaku sudah mempromosikan produksi tersebut ke Pulau Jawa dan Makassar. Bahkan kini salah satu supermarket dari Makassar telah berminat melakukan kerja sama. “Namun tawaran itu masih dipertimbangkan dengan alasan produksi kita masih terbatas,” tandasnya. (kas)

Possessivpronomen

  • 1. POSSESSIVPRONOMEN BY : 1.Yessi Nadia 2.Ayu Silva 3.Suci Nurdiani K 4.Janatika Roma F 5.Silvia Wahyuni 6.Yeni Saputri 
  • 2.  Possessivpronomen Possessivpronomen adalah kata ganti yang digunakan untuk menunjukan suatu kepemilikan. Possesivpronomen sebagai kata ganti benda digunakan tanpa menggunakan artikel.Selain itu juga dapat mengekspresikan Possessivpronomen yang datif dari Personalpronomens: mein Haus, sein Auto, ihre Oma 
  • 3.  Possessivpronomen : * Höflichkeitsform der Anrede 
  • 4. Untuk tunggal seseorang ada dua bentuk,yang digunakan tergantung pada jenis kelamin.Contoh: das Haus der Schwester -> ihr Haus, in ihrem Haus … das Haus der Bruders -> sein Haus, in seinem Haus … das Haus der Mädchens (neutr.) -> sein Haus, in seinem Haus … 
  • 5. Selain berfungsi sebagai kata ganti kepunyaan, juga digunakan sebagai pelengkap kata benda (Attributiv). Perbedaan antara keduanya sangat jelas, apabila Possessivepronomen sebagai artikel (Possessivartikel) maka selalu berada didepan kata benda tetapi apabila Possessivepronomen sebagai pengganti dari kata benda maka digunakan tanpa artikel. Lihat tabel dan contoh sebagai berikut
  • 6. Possesivpronomen I SUBJECT der die das Ich mein meine mein Du dein deine dein Sie ihr ihre ihr Er/es sein seine sein Ihr euer eure euer Wir unser unsere unser Sie (p) ihrem ihrer ihrem Sie (Anda) ihrem ihrer ihrem
  • 7. z.B (zum Beispiel/Contoh) : Das ist mein Auto. (Itu adalah mobil saya.) Das ist unser Stuhl. (Itu adalah kursi kami.) Kata “mein” dalam kalimat di atas merupakan kata ganti dari “ich” sedangkan kata “unser” merupakan kata ganti dari “wir”. 
  • 8. POSSESIVPRONOMEN II (AKKUSATIV) Subject den die das Ich meinen meine mein Du deinen deine dein Sie ihren ihre ihr Er/es seinen seine sein Ihr eueren euere euer Wir unseren unsere unser Sie (P) ihren ihre ihr Sie (Anda) ihren ihre ihr
  • 9. z.B (zum Beispiel / Contoh) : Ich kaufe ein Hut. (saya membeli sebuah topi) Ich kaufe einen Hut. (saya membeli sebuah topi) Hut merupakan akkusativ atau objek langsung.Sehingga artikel “ein” berubah menjadi “einen” 
  • 10. POSSESIVPRONOMEN III (DATIV) Subject dem der dem Ich meinem meiner meinem Du deinem deiner deinem Sie ihrem ihrer ihrem Er/es seinem seiner seinem Ihr euerem euerer euerem Wir unserem unserer unserem Sie (P) ihrem ihrer ihrem Sie (Anda) ihrem ihrer ihrem 
  • 11. z.B (zum Beispiel / contoh) : Ich kaufe meinem Vater einen Auto. (Saya membelikan ayah saya sebuah mobil) “ meinem Vater” di atas merupakan dativ,menjadi “meinem Vater” karena dia merupakan objek tidak langsung.

Germanistische Linguistik

Abschluss

Kombinationsbachelor, Bachelor of Arts (B.A.)
    Bitte beachten Sie ggf. auch die Kern- und Zweitfächer Deutsch (mit Lehramtsoption) und Deutsche Literatur im Kombinationsbachelor.

Regelstudienzeit

6 Semester

Studienbeginn

nur zum Wintersemester

Kombinationen

Kernfach Germanistische Linguistik, dazu ist ein Zweitfach zu wählen
Zweitfach Germanistische Linguistik zu einem Bachelor-Kernfach
Bitte beachten Sie das Merkblatt "Bachelor- und Masterstudiengänge an der Humboldt-Universität zu  Berlin"! Dort finden Sie auch Informationen zu den Kombinationsmöglichkeiten. Das Fächerangebot können Sie dem aktuellen "Studienangebot" entnehmen.

Sprachkenntnisse

    Für das Kern- und Zweitfach: Kenntnisse von mindestens zwei Fremdsprachen werden empfohlen, adäquate Deutschkenntnisse werden vorausgesetzt.

Auslandsstudium

Studienaufenthalte im Ausland auf der Grundlage von "Learning Agreements" werden empfohlen.





       Kleidung in Deutschland ist ein heikles Thema. Denn ihre Kleidung ist etwas, mit dem sich Deutsche vom Rest der Welt besonders deutlich unterscheiden, mit dem sie besonders schnell und fast überall identifiziert werden und mit dem sie niemals und nirgendwo eine gute Figur machen. Der Deutsche, der nichts lieber hat, als auf Reisen einzutauchen und unerkennbar unterzugehen in fremden Kulturen, sticht in Wahrheit in der Fremde besonders deutlich hervor. Er ist leider nicht nur gezeichnet durch die Verbrechen der Nazizeit, die ihm über alle Generationen hinweg zugerechnet werden, sondern auch durch seine Herrensandalen, Frotteesocken und kantigen Designerbrillen, die er nur allein sich selbst zurechnen kann. Er wird nicht geoutet, er outet sich selbst, weiß aber nicht, wodurch.

      Die schreckliche und rührende modische Unbewusstheit des Deutschen hat vor allem einen Grund: Er weiß nicht, dass Mode eine Sprache ist, das heißt, immer ein Ausdruck von etwas. Noch viel weniger ahnen wir, dass Mode auch dann als Ausdruck von etwas gelesen wird, wenn ein solcher Ausdruck gar nicht angestrebt wurde; jedenfalls nicht von uns. Der Deutsche denkt zum Beispiel, dass Kleidung auch unter rein praktischen Gesichtspunkten betrachtet werden kann. Fragte man einen deutschen Mann, warum er Sandalen trage, würde er antworten: Weil es so angenehm sei, wenn die Füße gekühlt werden.

      Angehörige romanischer Völker würden sich bei einer solchen Antwort schaudernd abwenden; schon deshalb, weil damit ein Bild schwitzender Füße, ganz allgemein ein Bild hässlicher Kreatürlichkeit, heraufbeschworen wird, von dem Mode ihrem Verständnis nach gerade ablenken soll. Italiener oder Portugiesen würden sich aber noch aus einem anderen Grunde verwundern: weil ihnen der Gedanke gänzlich fremd ist, Schuhe zu Zwecken besserer Transpiration zu wählen. Schuhe sollen ihrer Meinung nach schön sein, das heißt, dem Ansehen des Trägers vorteilhaft, seine erotische Wirkung und soziale Stellung heben und die unvorteilhaften Seiten der menschlichen Natur unterschlagen.

      Es ist nämlich keineswegs so, dass jene Deutschen, die das Praktische, Natürliche und Gesunde in der Mode bevorzugen, damit die gesellschaftliche Seite der Mode erfolgreich abgeschüttelt haben. Auch wir sprechen durch unsere Kleidung, aber es ist ein ideologischer, kein ästhetischer Diskurs. Der unrasierte und luftdurchlässig gewandete Deutsche will ein Bekenntnis ablegen: zum Beispiel gegen die Diktatur von Schönheitsidealen, die Herrrschaft des Kommerzes, vielleicht auch die Überschätzung von Äußerlichkeiten. 

    Seine Mode ist Antimode. Es gibt eine mehr als 100-jährige Tradition in der Verachtung äußerer Konventionen, die darüber selbst wieder zur Konvention geworden ist. Seit der Jugendbewegung der vorletzten Jahrhundertwende, vielleicht aber auch schon seit den Pietisten des 18. Jahrhunderts wird sie in regelmäßigen Wellen aktuell; zuletzt in der linksalternativen Bewegung der achtziger Jahre, die jede Form von Eleganz für eine Art Sünde hielt.